Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

Kisah Sukses HONDA

Amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada kendaraan bermerek Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merek kendaran ini memang selalu menyesaki padatnya lalu lintas. Karena itu barangkali memang layak disebut sebagai raja jalanan.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri kerajaan bisnis Honda -- Soichiro Honda -- selalu diliputi kegagalan saat menjalani kehidupannya sejak kecil hingga berbuah lahirnya imperium bisnis mendunia itu. Dia bahkan tidak pernah bisa menyandang gelar insinyur.
Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.
Saat merintis bisnisnya, Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun, ia terus bermimpi dan bermimpi. Dan, impian itu akhirnya terjelma dengan bekal ketekunan dan kerja keras. ''Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya di sekitar mesin, motor dan sepeda,'' tutur Soichiro, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengidap lever.

Kecintaannya kepada mesin, jelas diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Di kawasan inilah dia lahir. Kala sering bermain di bengkel, ayahnya selalu memberi catut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906 ini dapat berdiam diri berjam-jam. Tak seperti kawan sebayanya kala itu yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain penuh suka cita. Dia memang menunjukan keunikan sejak awal.
Seperti misalnya kegiatan nekad yang dipilihnya pada usia 8 tahun, dengan bersepeda sejauh 10 mil. Itu dilakukan hanya karena ingin menyaksikan pesawat terbang.

Bersepada memang menjadi salah satu hobinya kala kanak-kanak. Dan buahnya, ketika 12 tahun, Soichiro Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampai saat itu, di benaknya belum muncul impian menjadi usahawan otomotif. Karena dia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya selalu rendah diri.

Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke kota, untuk bekerja di Hart Shokai Company. Bossnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari
perhatiannya. Enam tahun bekerja di situ, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.

Di Hamamatsu prestasi kerjanya kian membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu,jam kerjanya tak jarang hingga larut malam, dan terkadang sampai
subuh. Yang menarik, walau terus kerja lembur otak jeniusnya tetap kreatif.

Kejeniusannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari ini, Soichiro punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia.

Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama. Setelah menciptakan ruji. Lalu Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu dia berpikir, spesialis apa yang dipilih ? Otaknya tertuju kepada
pembuatan ring piston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada 1938. Lalu, ditawarkannya karya itu ke sejumlah pabrikan otomotif. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring Piston buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan
menyesalkan dirinya keluar dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal ring pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

Siang hari, setelah pulang kuliah, dia langsung ke bengkel mempraktekkan pengetahuan yang baru diperoleh. Tetapi, setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah. ''Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidakdiberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,'' ujar Honda, yang diusia mudanya gandrung balap mobil. Kepada rektornya, ia jelaskan kuliahnya bukan mencari ijazah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan. Tapi dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir segalanya. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima pihak Toyota yang langsung memberikan kontrak. Ini membawa Honda berniat mendirikan pabrik. Impiannya untuk mendirikan pabrik mesinpun serasa kian dekat di pelupuk mata.

Tetapi malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana kepada masyarakat. Bukan Honda kalau menghadapi kegagalan lalu menyerah pasrah. Dia lalu nekad mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Namun lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar, bahkan hingga dua kali kejadian itu menimpanya. Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Penderitaan sepertinya belum akan selesai. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik ring pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.

Akhirnya, tahun 1947, setelah perang, Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya akibat krisis moneter itu. Padahal dia ingin menjual mobil itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Dalam keadaan terdesak, ia lalu kembali bermain-main dengan sepeda pancalnya. Karena memang nafasnya selalu berbau rekayasa mesin, dia pun memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka, sepeda motor-- cikal bakal lahirnya mobil Honda -- itu diminati oleh para tetangga. Jadilah dia memproduksi sepeda bermotor itu. Para tetangga dan kerabatnya berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Lalu Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya, menjadi raja jalanan dunia, termasuk Indonesia.

Semasa hidup Honda selalu menyatakan, jangan dulu melihat keberhasilanya dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. ''ORANG MELIHAT KESUKSESAN SAYA HANYA SATU PERSEN. TAPI, MEREKA TIDAK MELIHAT 99 PERSEN KEGAGALAN SAYA,'' tuturnya. Ia memberikan petuah, ''KETIKA ANDA MENGALAMI KEGAGALAN, MAKA SEGERALAH MULAI KEMBALI BERMIMPI. DAN MIMPIKANLAH MIMPI BARU.'' Jelas kisah Honda ini merupakan contoh, bahwa sukses itu bisa diraih seseorang dengan modal seadanya, tidak pintar di sekolah, dan hanya berasal dari keluarga miskin.

Rabu, 05 September 2012

Purdi E. Chandra

Purdi E chandra lahir di Lampung pada 9 September 1959. Secara tak resmi ia sudah memulai bisnis sejak masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, kemudian menjual telurnya di pasar.
Adapun binis resminya dimulai pada 10 Maret 1982, yaitu saat ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Tes Primagama, kemudian menjdai bimbingan belajar primagama. Sewaktu mendirikan bisnis tersebut, Purdi E. Chandra masih tercatat sebagai mahasiswa di empat fakultas dari dua perguruan tinggi negeri Yogyakarta. Namun, karena merasa "tidak mendapatkan apa-apa", ia nekat meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti bisnis.
Sejak saat itu, Purdi E. Chandra mulai menajamkan intuisi bisnisnya. Ia melihat tingginya antusiasme siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri yang punya nama, seperti UGM. Ini merupakan peluang bisnis yang cukup potensial, karena ia bisa membantu mereka menyelesaikan soal-soal ujian masuk an tinggi negeri, yang akhirnya membuatnya mendirikan Primagama.
Primagama didirikan oleh Purdi E. Chandra dari modal hasil menggadaikan motornya seharga Rp 300.000,-. Selanjutnya, ia menyewa tempat kecildan disekat menjadi dua. Muridnya hanya dua orang, itupun tetangga. Biaya les hanya Rp 50.000,- untuk dua bulan. Jika tidak ada les maka uangnya bisa dikembalikan.
Segala upaya dilakukan oleh Purdi E. Chandra untuk membangun usahanya. Dua tahun setelah itu, nama Primagama mulai dikenal. muridnya bertambah banyak. Setelah sukses, banyak yang meniru nama primagama. Ia berinovasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikannya ini.
"Sebenarnya yang membuat Primagama maju adalah adanya program jaminan diri," ungkap Purdi E. Chandra mengenai rahasia kesuksesannya dalam mengembangkan Primagama. Dan berkat kerja kerasnya selama ini Primagama masih menjadi market leader dalam bisnis bimbingan belajar, dengan lebih dari 700 outlet di seluruh Indonesia.
Bukan suatu kebetulan jika seorang pebisnis sukses identik dengan kenekatannya berhenti sekolah ataupun kuliah. Sungguh kesuksesan seseorang pebisnis sama sekali tidak ditentukan oleh gelar pendidikannya. Inilah yang dipercayai oleh Purdi E. Chandra ketika membangun usahanya.
Dengan jatuh bangun Purdi E. Chandra mengelola Primagama. Dari semula hanya satu outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100.000 orang pertahun. karena perkembangannya itu, akhirnya Primagama dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum rekor Indonesia).
Mengena bisnisnya Purdi E. Chandra mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara itu, ia belajar dari sang ayah dalam hal kepemimpinan dan organisasi lantaran sang ayah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepadanya. Bekal dari kedua orang tua Purdi E. Chandra tersebut semakinlengkap dengan dukungan dari sang istri, triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya, fesha dan Ziddan. Pada awal-awal berdirinya Primagama Purdi E. Chandra selalu ditemani oleh sang istri saat berkeliling kota di seluruh Indonesia untuk membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut semakin berkembang.
Saat ini, Primagama menjadi holding company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, seperti pendidikan formal, pendidikan nonformal, telekomunikasi, biro perjalanan, rumah makan, supermarket, asuransi, meubel, lapangan golf, dan lain sebagainya.
Walaupun kesibukannya sebagai pebisnis sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi E. Chandra tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat, ia pernah menjabat sebagai ktua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta, serta pengurus kamar dagang dan industri daerah DIY. Selain itu ia juga pernah tercatat sebagai anggota MPR RI utusan Daerah DIY.
Bagi Purdi E. Chandra dalam berbisnis, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif dianggapnya sudah memadai. banyak orang ragu berbisnis hanya lantaran terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang dianggap bodoh oleh guru-guru formal karena nilainya jelek, justru melejit menjadi wirausaha sukses.
Kesuksesan Purdi E. chandra membuat Primagama beromset hampir 70 miliar pertahun, dengan 200 outlet di lebih 106 kota. Ia juga mendirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Enterpreneur University, dan Sekolah Tinggi Psikologi yogyakarta.
Grup primagama pun merambah bidang radio, penerbitan, jasa wisata, retail, dan lain-lain. Semuanya itu diawali oleh keberanian mengambil resiko. Kini, Purdi E. Chandra lebih banyak lagi berdakwah tentang entrepreneurship. baginya Entrepreneur (pebisnis) sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan pekerjaan. namun itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini.
menurut Purdi E. Chandra kesalahan sistem pendidikan di Indonesia adalahkebanyakan lulusan baru mencari kerja, bukan menciptakan lapangan kerja. Dan mereka hanya menjadi pebisnis saat kepepet. Setelah mereka tidak diterima bekerja di mana-mana, mereka baru sadar dan akhirnya membuat usaha sendiri.
Semestinya kesadaran seperti ini bisa berlaku bagi orang-orang yang tidak kepepet. Alasanya jika mereka mau berusaha, mereka harus mempunyai modal dan keterampilan. Padahal tidaklah mutlak seperti itu. Saat yang tepat dalam berbisnis justru a tidak mempunyai apa-apa. ibaratnya, bila mereka memiliki ijazah, mereka masih dapat mencari kerja. Lain halnya dengan Purdi E. Chandra, ia tidak tergantung pada selembar ijazah. Sebab, seandainya ijazah ini dijaminkan di bank pun tidak bisa.
Sebagai pebisnis Purdi E. Chandra mempunyai visi mega entrepreneur. Artinya, seorang pebisnis bisa menciptakan pebisnis lainyya. jika pebisnis bisa menciptakan lapangan pekerjaan, itu sudah biasa. Namun, yang diupayakan oleh Purdi E. Chandra adalah ia harus bisa menciptkan banyak pebisnis, lapangan kerja yang tercipta juga lebih banyak lagi. Dan karyawan primagama pun diusahakan olehnya agar dapat menjadi pebisnis.
Purdi E. Chandra juga banyak bercermin dari kisah sukses para tokoh dunia yang membangun kesuksesannya dari mimpi, sebagaimana yang dilakukan oleh Galileo, thomas Alfa Edison, Einstein, dan lain-lain.